Categories: Metro 24 Jam

Catatan BKSDA Aceh, Sepuluh Ekor Gajah Sumatera Ditemukan Mati

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh mencatat 10 ekor gajah Sumatera liar ditemukan mati di berbagai wilayah di Provinsi Aceh sepanjang tahun 2020.

Kepala BKSDA Aceh Agus Arianto merinci, 5 ekor di antara bangkai gajah ditemukan telah menjadi tulang-belulang di Kabupaten Aceh Jaya. Kemudian, 2 di Pidie, 2 ekor di Aceh Timur dan satu lainnya di Aceh Utara.

“Kita tidak tahu tahun berapa kematian gajah-gajah liar yang ditemukan menjadi tulang-belulang, cuma kami rekapitulasi masuk dalam temuan di tahun 2020 yang lima ekor tulang di Aceh Jaya waktu itu,” sebut Agus menjawab Metro24jam.com, Jum’at (01/01/2021).

Ia melanjutnya, mitigasi konflik satwa liar antara gajah liar dengan manusia juga masih tinggi di Aceh. BKSDA Aceh mencatat, beberapa daerah yang dimaksud meliputi Kabupaten Pidie, Bener Meriah, Pidie Jaya, Aceh Jaya dan Aceh Timur. Sementara Aceh Utara sendiri, menurutnya masih tergolong sedang.

“Untuk 2020 daerah konflik satwa liar masih tinggi, masing-masing di Pidie, Bener Meriah, Pidie Jaya, Aceh Jaya, Aceh Timur. Kalau Aceh Utara informasinya tidak terlalu tinggi tapi sedang. Nah, enam Kabupaten itu yang tingkat intensitas konfliknya mulai dari sedang sampai tinggi,” imbuh Agus.

Sebagai bentuk meminimalisir konflik satwa tersebut, terdapat tujuh Conservation Response Unit (CRU) yang hingga kini masih menjalankan tugasnya di beberapa daerah di Aceh–masing-masing di Cot Girek Aceh Utara, Peusangan Bireuen, Serba Jadi Aceh Timur, Mila Pidie, Sampoiniet Aceh Jaya, Lhok Kuyuen Meulaboh dan CRU Trumon Aceh Selatan.

Masing-masing CRU juga terdapat empat ekor gajah jinak yang diturunkan dari Pusat Latihan Gajah (PLG) Saree, Aceh Besar berikut para Mahout (pawang).
Hal tersebut dilakukan untuk mencegah atau setidaknya meminimalisir terjadinya konflik gajah liar dengan manusia.

BKSDA Aceh mengimbau agar masyarakat dapat melakukan penanganan konflik gajah liar sebijaksana mungkin tanpa melakukan upaya-upaya yang menyebabkan kematian.

“Memang konflik saat ini cukup besar intensitasnya. Maka yang kami minta bagaimana penanganannya oleh masyarakat itu sebijaksana mungkin, artinya tidak melakukan upaya-upaya yang dapat menyebabkan gajah terluka apalagi terbunuh seperti racun, maupun kawat listrik,” tutup Agus berharap. (*)

Recent Posts

Ketua Fraksi PAN DPRD Deliserdang: Lelang Jabatan Harus Profesional, Peringkat 1 Harus Jadi Kadis

Ketua Fraksi PAN DPRD, Bayu Sumantri Agung, mengkritik proses Lelang Jabatan Eselon II yang digelar…

2 jam ago

Gegara Dituduh Curi Beras, Ponakan Tikam Bude Pakai Gunting, Warga Jalan Ade Irma Geger!

Warga seputaran Jalan Ade Irma Suryani, Kelurahan Martoba, Siantar Utara digegerkan aksi penikaman yang dilakukan…

2 jam ago

Soal Tambang Batu di Siregar Aek Nalas, KPH Balige: Itu APL, Ketua DPRD Toba: Harus Disikapi dengan Bijak

Lokasi penambangan liar galian C batu padas di Huta Holbung, Desa Siregar Aek Nalas, Kecamatan…

3 jam ago

Ditangkap Polisi dan Positif Narkoba, Kades Pulo Tagor Baru Hanya Direhabilitasi

Oknum Kepala Desa Pulo Tagor Baru, Kecamatan Galang, Deliserdang, yang terjerat kasus narkoba akhirnya bisa…

3 jam ago

Duduk-duduk di Kawasan TPU, Pemuda 18 Tahun Tewas Tertimpa Tembok Rubuh

Seorang pemuda tewas lantaran tertimpa tembok rubuh di kawasan TPU, Jalan Medan, Lingkungan I, Kelurahan…

5 jam ago

Digrebek Polisi, Pengedar Sabu Kampung Banjar Tunjuk Temannya

Satuan Reserse Narkoba Polres Pematang Siantar kembali melakukan penggrebekan di Kelurahan (Kampung) Banjar, Siantar Barat,…

5 jam ago