Categories: Metro 24 Jam

Spanduk dan Baliho Kedaluarsa Bacalon Bupati Rusak Pemandangan Simalungun

Kabupaten Simalungun merupakan salah satu pintu gerbang menuju Destinasi Wisata Danau Toba Sumatra Utara. Selain itu, Simalungun sendiri memiliki 57 titik lokasi objek wisata, mulai dari wisata alam, agro, budaya dan rekreasi lainnya.

Ibukota kabupaten ini resmi berpindah ke Raya pada tanggal 23 Juni 2008, sejak Kota Pematang Siantar menjadi daerah otonomi. Dengan jumlah penduduk sekitar 863.693 jiwa berdasarkan data BPS tahun 2019, masyarakat Simalungun juga terdiri dari berbagai suku dan agama.

Kecamatan Girsang Sipangan Bolon merupakan wilayah dengan objek wisata terbanyak dan di sana pula terdapat objek wisata yang paling diandalkan, yaitu Danau Toba yang bisa dinikmati dari Parapat, dengan jarak tempuh 172 kilometer dari Medan, 74 kilometer dari Raya dan hanya lebih kurang 49 kilometer dari Kota Pematang Siantar.

Pada tahun 2012, industri pariwisata Simalungun bertumpu pada 10 hotel berbintang dan 43 hotel kelas melati. Jumlah hotel bintang tersebut adalah yang terbanyak kedua di Sumatra Utara setelah Kota Medan.

Keindahan alamnya pun mulai terlihat dari pintu masuk Kabupaten Simalungun, hingga pusat kota Raya dan berakhir di pantai wisata yang paling diandalkan, yaitu Danau Toba yang bisa dinikmati dari Parapat, dikenal memiliki pemandangan alam yang sangat eksotis. 

Beberapa sudut persimpangan jalan yang menuju ke objek wisata di Kabupaten Simalungun sudah dikemas dengan baik oleh pemerintah setempat, antara lain dengan membangun Gapura Selamat yang megah di pintu masuk melalui jalur utama.

Namun, setiap menjelang pesta demokrasi, baik Pemilu maupun Pilkada, keindahan tersebut akan tercoreng dengan munculnya puluhan spanduk dari para bakal calon.

Demikian juga jelang Pilkada Serentak tahun 2020 ini. Sejumlah Bakal Calon Bupati Simalungun beramai-rama memasang atribut kampanye secara serampangan.

Tak hanya mengabaikan sisi keindahan, tetapi sejumlah spanduk maupun baliho yang dipasang juga tak memperthatikan faktor keselamatan bagi para pengendara maupun pengguna jalan.

Saat ini, puluhan spanduk dan banner dengan desain berragam nampak berjejer tak beraturan di sepanjang jalan di Kabupaten Simalungun terutama di kawasan yang dianggap strategis.

Pilkada Serentak 2020 sudah memasuki masa pendaftaran bakal calon, sejumlah kandidat dipastikan tak mendapat ‘perahu’ sehingga gagal bersaing untuk memperebutkan kursi ‘Simalungun 1’.

Namun, spanduk-spanduk maupun baliho yang dipasang para bacalon gagal tersebut, yang kini terlihat sudah compang-camping dan bahkan sebagian sudah sobek serta bertumbangan, masih saja terpasang di sejumlah lokasi.

Apalagi, sebagian dari baliho dan spanduk tersebut berada di tempat tidak seharusnya sesuai dengan Peraturan KPU, antara lain pemasangan spanduk di seputaran tempat ibadah maupun sekolah.

Kondisi itu tentu menjadi nilai minus terhadap keindahan tata wilayah yang sebelumnya dicanangkan pemerintah setempat.

Salah satu baliho Bacalon Bupati yang tumbang di Jalan Asahan, Kecamatan Gunung Malela. (Suhendra/metro24jam.com)

“Seharusnya, pemerintah kecamatan berkoordinasi dengan Sat Pol-PP untuk melakukan penertiban spanduk dan baliho ini. Jika sudah kedaluarsa dan tak memiliki izin kan bisa ditertibkan demi keindahan pemandangan maupun keselamatan pengendara di Simalungun,” kata JM Purba, saat ditemui di seputaran Jalan Asahan Simpang Serapuh, Kecamatan Gunung Malela, Sabtu (12/9/2020) lalu.

Ia pun mengaku kecewa, karena sejumlah spanduk maupun baliho terlihat ‘berserak’ di seputaran rumah ibadah dan lokasi pendidikan seperti di Simpang Serapuh, Jalan Asahan, Kecamatan Gunung Malela.

“Pemerintah daerah perlu melakukan penertiban untuk mengatasi hal tersebut. Paling tidak iklan dari para pasangan Bacalon tersebut lebih tertata dan lebih indah serta tidak merusak pemandangan,” katanya.

Spanduk ataupun baliho yang dipasang secara serampangan tanpa mempedulikan sisi keindahan itu dinilai telah merusak citra Kabupaten Simalungun yang merupakan salah satu destinasi wisata.

“Aku sendiri merasa risih dengan bertebarannya spanduk-spanduk liar di berbagai persimpangan di wilayah kecamatan. Ini peran pemerintah setempat maupun Sat Pol-PP, untuk menertibkan baliho dan spanduk yang sudah kedaluarsa itu,” ketusnya.

Pantauan di sekitar lokasi, sejumlah baliho yang terpasang ada yang berukuran 2 x 3 meter dan 3 x 4 meter maupun 4 x 6 meter–seluruhnya dipasang menggunakan bingkai dan tiang dari kayu.

“Untuk baliho biasanya diperlukan rangka penyangga yang kuat, kalau tidak, pasti mudah tumbang. Kalau sudah begitu, pasti merusak pemandangan. Bagaimana pula kalau pas tumbang ada pengendara yang melintas? Kan sangat bahaya itu!” timpal warga lainnya bernama Ali, yang juga berdomisili di Kecamatan Gunung Malela. (age)

Recent Posts

Bupati Toba Terbitkan Surat Edaran Larangan Pesta, Objek Wisata Ditutup

Bupati Toba Ir Poltak Sitorus melarang warganya terlibat dalam kerumunan khususnya yang akan melakukan kegiatan…

7 jam ago

Pemkab Simalungun Bantu Korban Longsor dan Banjir di Parapat

Pemerintah Simalungun melalui Dinas Sosial memberikan bantuan 75 paket bahan pangan pokok kepada korban longsor…

10 jam ago

Viral di Mesdos, Seorang Pelaku Pemerasan di Eks Terminal Sukadame Ditangkap, Temannya Buron

Aksi pemerasan di kawasan eks Terminal Sukadame Kota Pematang Siantar viral di media sosial (medsos).…

11 jam ago

Tinjau TPS, PLt Camat Lubukpakam: Kebersihan Harus Diawali dari Desa

Pelaksana Tugas (Plt) Camat Lubukpakam Drs Syahdin Setia Budi Pane mengimbau seluruh warganya agar peduli…

11 jam ago

Kelilingi Objek Wisata Lurah Tigaraja Imbau Warga Taati Prokes

Kepala Kelurahan Tigaraja, Darmadonni Silalahi SH, mengelilingi lokasi objek wisata di seputar wilayah kerjanya, untuk…

12 jam ago

Gubuk Diduga Lokasi Judi Dadu di Durin Simbelang Dibakar Polisi

Menindaklanjuti keresahan masyarakat akan adanya lokasi judi dadu di Desa Durin Simbelang, personel Polsek Pancurbatu…

13 jam ago