Categories: Metro 24 Jam

Belasan Tahun Tinggal di Gunung Malela, Janda Tua Ini Tak Pernah Dapat Bantuan Pemerintah

Belasan tahun hidup menjanda, Sabariah Sembiring, yang tak memiliki pekerjaan tetap terpaksa hidup menyendiri di sebuah gubuk reot di lahan pertanian seorang warga, di Jalan Raya Kecamatan Gunung Malela, Simalungun.

Sejak ditinggal mati suaminya, almarhum Swandi, wanita yang mengaku berasal dari Kampung Kelapa Satu, Kecamatan Galang, Serdang Bedagai ini hanya bisa mengharapkan bantuan warga selama belasan tahun bermukim di Kecamatan Gunung Malela.

“Saya tak pernah ingin hidup susah sampai usia setua ini. Tapi, mau apa lagi, insya Allah saya ikhlas,” ungkapnya lirih dengan raut wajah pasrah saat ditemui, Metro24jam.com, Sabtu (29/8/2020).

Selama ini, menurut wanita itu, ia bisa bertahan hidup berkat bantuan dan belas kasihan warga sekitar. Belasan tahun ia menumpang hidup di gubuk 2 x 3 meter yang berada di lahan milik seorang karyawan BUMN, tak sekalipun mendapat bantuan dari pemerintah setempat.

“Sebenarnya ada anaknya, tapi hidupnya pun sebatang kara, supir angkot. Mungkin Ia memilih hidup sendiri meski keadaan susah dan harus menumpang di sisa tanah pertanaian warga daripada menyusahkan anak,” kata seorang warga kepada Metro24jam.com dengan logat Jawa kental.

Menurut pria itu, untuk kebutuhan sehari-hari, janda tua itu hanya berharap dari pemberian tetangga atau dermawan yang kebetulan melintasi gubuk kumuh yang dihuninya.

“Dulu, waktu di belakang dekat perladangan, dia sempat menanak nasi kalau kebetulan ada beras,” ungkap warga lainnya.

Wanita itu hanya mengandalkan tungku tua dengan bahan bakar ranting kayu yang dikumpulkan dari sekitar areal perladangan.

“Tapi, walaupun begitu kalau untuk makan dan minumnya mudah-mudahan tidak putus-putus warga bergantian membantu,” imbuh warga tersebut.

Menurut warga tersebut, selama hampir lima tahun belakangan ini, wanita renta itu menumpang di atas tanah perladangan milik mantan karyawan BUMN tersebut.

“Kalau malam, terkadang nenek itu cuma pakai lilin sumbangan orang lah sebagai penerangan,” katanya.

Pantauan di lokasi, beberapa bagian atap gubuk tersebut dpasangi plastik bekas agar jika hujan turun air tidak segera menerbos ke dalam. Di dalam gubuk, terlihat ranjang tua dari kayu beralaskan tikar bekas.

“Dulu ada kelambu lusuh di ujung ranjang, untuk melindungi nenek itu dari serangan nyamuk,” katanya lagi.

Kondisi Sabariah Sembiring kini jauh lebih memprihatinkan. Ia sulit berkomunikasi dengan orang karena mengalami gangguan pendengaran. Setiap kali diajak berbicara, wanita itu hanya menebar senyum dan sesekali mengangguk.

“Dia baru makan kalau ada yang memberinya makanan. Jadi sekarang ini, orang tua itu betul-betul tidak bisa berbuat apa-apa. Jalan saja sudah susah. Dia ada anak, tapi penghasilannya tidak menentu karena hanya bergantung dari hasil menarik angkot. Terkadang kalau anaknya pulang, baru dia kelihatan makan roti,” katanya.

Menurut warga itu, masyarakat sekitar kerap kali membantu Sabariah meski bisa dikatakan sangat terbatas.

“Sampai saat ini belum ada orang dari pemerintahan yang datang melihat kondisi nenek ini. Sudah syukur kalau ada [aparat pemerintah] yang mau nanya kondisninya saja. Tapi sampai saat ini, belum adalah yang datang, baik dari kecamatan maupun pemerintahan,” ungkapnya.

Sabariah Sembiring pernah diusulkan untuk mendapat bantuan dari program pemerintah. Namun sayang, bantuan itu urung direalisasi karena wanita itu tak bisa memperlihatkan dokumen kependudukan.

“Saat ini saya dapat kabar dari perangkat desa, kalau gubuknya dalam waktu dekat ini akan dialiri listrik. Maunya pemerintah lebih perhatianlah sama warga miskin seperti ini, dalam hal ini Camat Gunung Malela,” kata warga lagi.

Mereka meminta Camat Andi S Pasaribu agar bisa membantu memindahkan wanita tua itu ke tempat yang lebih layak.

Terpisah, Pangulu Nagori Margo Mulyo, Suwedi ketika dikonfirmasi mengatakan bahwa janda tua itu adalah warganya.

Menurut Pangulu Suwedi, pemerintah nagori sudah kerap mengungjungi dan membantu bersama warga Margo Mulyo lainnya. Bahkan, beberapa kali mereka berupaya memindahkan Sabariah dari areal perladangan tersebut.

“Mereka diajak menemui keluarganya pun menolak. Kami ingin membantu memindahkan ke tempat yang lebih layak juga ditolak. Mereka bersikeras bertahan tinggal di areal perladangan. Kami sudah setiap saat mengunjungi dan memberi bantuan,” kata Pangulu Suwedi.

Sayang, Camat Gunung Malela Drs Andy S Pasaribu, saat dimintai tanggapan terkait kondisi Sabariah Sembiring, Sabtu (29/8/2020) sore, hingga saat ini tak memberikan jawaban. (age)

Recent Posts

Bupati Toba Terbitkan Surat Edaran Larangan Pesta, Objek Wisata Ditutup

Bupati Toba Ir Poltak Sitorus melarang warganya terlibat dalam kerumunan khususnya yang akan melakukan kegiatan…

8 jam ago

Pemkab Simalungun Bantu Korban Longsor dan Banjir di Parapat

Pemerintah Simalungun melalui Dinas Sosial memberikan bantuan 75 paket bahan pangan pokok kepada korban longsor…

11 jam ago

Viral di Mesdos, Seorang Pelaku Pemerasan di Eks Terminal Sukadame Ditangkap, Temannya Buron

Aksi pemerasan di kawasan eks Terminal Sukadame Kota Pematang Siantar viral di media sosial (medsos).…

12 jam ago

Tinjau TPS, PLt Camat Lubukpakam: Kebersihan Harus Diawali dari Desa

Pelaksana Tugas (Plt) Camat Lubukpakam Drs Syahdin Setia Budi Pane mengimbau seluruh warganya agar peduli…

12 jam ago

Kelilingi Objek Wisata Lurah Tigaraja Imbau Warga Taati Prokes

Kepala Kelurahan Tigaraja, Darmadonni Silalahi SH, mengelilingi lokasi objek wisata di seputar wilayah kerjanya, untuk…

13 jam ago

Gubuk Diduga Lokasi Judi Dadu di Durin Simbelang Dibakar Polisi

Menindaklanjuti keresahan masyarakat akan adanya lokasi judi dadu di Desa Durin Simbelang, personel Polsek Pancurbatu…

14 jam ago