Categories: Metro 24 Jam

Kerap Diintimidasi Salah Satu Warganya, Kades Hilihambawa Nias Minta Perlindungan Polisi

Kepala Desa Hilihambawa, Kecamatan Botomuzoi, Kabupaten Nias, belum lama ini terlibat pertikaian dengan salah seorang warganya berinisial Sozanolo Waruwu alias Soza

Pertikaian itu kini terus menuai kontroversi karena kedua belah pihak saling lapor dan memiliki cerita dengan masing-masing versi terkait persoalan mereka.

Hasil penelusuran Metro24jam.com, terungkap sejumlah fakta terkait perseteruan tersebut. Dalam satu rekaman video yang diperoleh, beberapa warga mengatakan, bahwa Soza seringkali membuat onar di desa mereka.

“Dia (Soza-red) sering membuat onar dan kegaduhan. Misalnya, memblokade jalan, memutuskan kabel listrik. Bahkan saat adanya proses pembangunan di desa ini, dia selalu menghambat dan mencari-cari masalah. Kami warga merasa sangat resah atas perbuatannya,” ungkap Ama Restu Waruwu, salah seorang warga di Desa Hilihambawa.

Ia menduga bahwa Sozanolo Waruwu beserta rekan-rekannya FW, YJW, SG di backup beberapa oknum.

“Jadi, perbuatan Soza dkk, kami duga ditunggangi oleh beberapa oknum. Sehingga para pembuat onar di empat desa ini dengan leluasa membuat keributan kepada seluruh warga dan juga aparatur desa dan Muspika,” katanya.

Ama Restu pun berharap, pihak kepolisian segera menindaklanjuti laporan Kepala Desa Hilihambawa, agar para pelaku tersebut dapat diproses sesuai hukum yang berlaku. 

“Besar harapan kami kepada bapak Polisi terkait peristiwa ini agar segera diselesaikan. Terutama untuk Soza Dkk agar segera ditindak sesuai dengan hukum yang berlaku, karena perbuatan mereka sangat meresahkan masyarakat,” harapnya. 

Sementara itu, Kades Hilihambawa, Satiaro Waruwu alias Ama Kiri saat dikonfirmasi menjelaskan perbuatan yang dilakukan Sozanolo beserta rekan-rekannya. 

“Kejadiannya, Minggu (7/6/2020) lalu. Saya hendak menjenguk keluarga yang sedang sakit di RSU Bethesda Gunungsitoli. Ketika saya lewat di depan warung Ama Angki, mereka (Soza-red) menghardik saya sambil melemparkan sandal ke arah saya bersama beberapa teman saya yang ikut, beruntung sendal tersebut tidak mengenai kami langsung lari, karena mereka mengejar kami,” jelas Satiaro. 

Saat sang Kades berusaha menyelamatkan diri, Soza dan 2 temannya tersebut mengejar Satiaro mengendarai sepedamotor. 

“Kami dikejar-kejar sambil berteriak mengancam, ‘Tunggu kami, kami bunuh kau sekarang Satiaro!’,” jelasnya sembari mengulangi ucapan para pengejarnya.

“Setibanya di depan rumah Fonaha Gulo, saya dihadang dan langsung saya lari ke dalam rumah warga untuk berlindung. Namun, tak dapat terelakkan lagi saya dipukuli di bagian pipi dan bibir atas sebelah kanan,” lanjut Satiaro.

Saat itu, menurut Satiaro, pemilik rumah berusaha melerai karena melihat ada pisau di tangan Soza.

“Sudah siap digunakan untuk menikam saya. Akhirnya, saya berhasil sembunyi di dalam kamar dan langsung menghubungi pihak kepolisian Polsek Hiliduho untuk meminta perlindungan,” paparnya. 

Masih menurut Kades Satiaro, para pelaku memang kerap membuat keributan saat ada musyawarah tingkat pemerintah desa. 

“Pernah mereka memukuli saya dengan menggunakan kursi. Bahkan mereka membuntuti keluarga saya setiap lewat depan rumah mereka dan juga kami selalu dilempar dengan menggunakan batu dan juga kursi,” kenangnya.

“Seluruh masyarakat juga tau sikap mereka yang arogan itu. Saya sangat terancam, untuk itu saya minta perlindungan kepada pihak kepolisian Polres Nias agar mereka segera ditangkap, karena sudah sangat mengganggu ketenteraman warga terutama saya sendiri,” harapnya.

Kades Satiaro Waruwu mengapresiasi kinerja Kasat Reskrim Polres Nias, Iptu Martua Manik, serta para penyidik yang telah melakukan proses penyelidikan dengan baik.

“Saya sangat mengapresiasi kinerja Kasat reskrim juga penyidik. Semua saksi juga telah dimintai keterangannya, meski masih ada yang belum tertangkap. Saya berterimakasih, kepada Kasat Reskrim khususnya,” ungkapnya.

Meski begitu, kuasa hukum Soza saat ini disebut mendesak Kapolda Sumatera Utara agar mengevaluasi kinerja Kasat Reskrim Polres Nias, Iptu Martua Manik.

Terkait desakan tersebut, kuasa hukum Satiaro Waruwu, Viktoria Mendrofa, yang berhasil dikonfirmasi meminta Kapolda Sumatera Utara untuk mengabaikan desakan tersebut.

“Itu kan tindakan terburu-buru. Proses ini kan masih penyelidikan dan hasilnya juga belum kita ketahui apakah naik ke tahap penyidikan atau tidak,” ujarnya saat dihubungi, Rabu (12/8/2020).

Viktoria beralasan, penyidik juga punya SOP dalam menindaklanjuti suatu laporan. Selain itu, penyidik juga tentu punya prinsip kehati-hatian dalam menindaklanjuti suatu laporan tindak pidana.

“Misalnya keterangan saksi-saksi tidak sinkron dengan peristiwa yang dilaporkan atau hal-hal lainnya. Jadi sebaiknya kuasa hukum yang profesional tidaklah terburu-buru mengambil langkah itu,” katanya.

“Sebaiknya, sekiranya penyidik masih memiliki keragu-raguan atas dugaan tindak pidana yang telah mereka laporkan itu masih memiliki kendala-kendala, baiknya kuasa hukum meminta kepada penyidik untuk dilakukannya konfrontir perkara,” jelas Viktoria.

Ia juga menyinggung beberapa hal yang disampaikan lawannya di beberapa media sosial yang dirasa bisa menyesatkan pubik. Salah satunya adalah tulisan bernada memvonis, “Kades Hilihambawa Bersalah Menganiaya…”.

“Yang berhak menetapkan seseorang bersalah atau tidak adalah majelis hakim melalui proses persidangan. Nah, laporan Soza kan masih penyelidikan kok sudah divonis bersalah? Dan hal ini sedang kita dalami karena adanya potensi terjadinya pencemaran nama baik yang tertuju kepada klien saya,” katanya lagi.

Selain itu, dalam pemberitaan itu juga dikatakan Kades mengambil pisau dari pinggang kirinya dengan tangan kanan lalu dihunuskan ke arah perut Soza.
Namun Soza dapat menghindar dengan gerakan spontan. Untuk membela dirinya sambil menendang tangan Kades yang mengakibatkan pisau tersebut jatuh mengenai jari kaki jempol Soza.

“Secara logika kalau kita menendang tangan seseorang yang sedang memegang sesuatu, bukan jatuh ke bawah akan tetapi pasti terlempar,” sebut Viktoria menjelaskan.

“Kemudian, adanya pengakuan bahwa Tempat Kejadian Perkara di depan rumah seseorang warga. Namun kok pemilik rumah tidak adanya satupun yang menjadi saksi atas laporan mereka, bahkan pemilik rumah menjadi saksi klien kita,” lanjutnya.

Mereka juga menghendaki KBO Reskrim Yafao Lase dicopot karena disinyalir adanya hubungan keluarga dengan Satiaro.

“Apa hubungannya ke sana ya…? Kok sepertinya kuasa hukumnya tidak percaya diri dan tidak profesional?” Sindir Viktoria.

Wanita pengacara itu pun berharap, agar kuasa hukum Soza bertindak profesional dan menghargai proses hukum yang sedang berjalan.

“Maka, dari serangkaian apa yang telah saya tanggapi di atas, saya mengharapkan kepada kuasa hukum Soza untuk bertindak profesional dan menghargai proses hukum. Jangan seolah mengintervensi penyidik khususnya dalam menindaklanjuti perkara ini sehingga pihak tidak adanya yang merasa dirugikan,” tutupnya.

Senada dengan itu, Humas Polres Nias, Bripka Restu Gulo, saat dikonfirmasi terkait pengaduan Soza mengatakan, hingga saat ini laporan tersebut masih dalam proses penyelidikan.

“Laporan Polisi Nomor: LP/193/VI/2020/NS, an pelapor Sozanolo Waruwu alias Soza tanggal 08 Juni 2020 telah diproses oleh penyidik dan saat ini dalam tahap penyelidikan,” ungkapnya pada wartawan.

Dijelaskannya, terhadap laporan tersebut, pihak penyidik sudah melakukan beberapa langkah.

“Kita sudah interogasi pelapor, cek TKP, mengambil hasil VER di UPTD RSUD Gunungsitoli, interogasi 9 saksi, serta melakukan interogasi terhadap dokter yang memeriksa pelapor,” lanjutnya.

Tak cuma itu, lanjut Restu Gulo, terhadap laporan tersebut juga telah dilakukan gelar perkara di Bagian Wassidik Ditreskrimum Polda Sumut, Jum’at (24/7/2020) yang lalu. Penyidik juga sudah mengirimkan SP2HP kepada pelapor.

“Dalam hal ini, penyidik akan menindaklanjuti rekomendasi gelar perkara yang telah dilaksankan di Bag Wassidik Ditreskrimum Polda Sumut pada tanggal 24 Juli 2020,” tutup Bripka Restu Gulo. (adi)

Recent Posts

Mengaku Sering Dapat ‘Bisikan Gaib’, Petani di Desa Ujung Labuhan Gantung Diri di Pohon Coklat

Sempat mengaku sering mendapat 'bisikan gaib', seorang petani di Dusun 1, Desa Ujung Labuhan, Kecamatan…

10 jam ago

Arus Mudik di Jalinsum Aek Natolu Lengang, 21 Pemudik Diputarbalik

Dua hari jelang Idul Fitri 1442 H , arus kendaraan di Jalan Lintas Sumatera, tepatnya…

1 hari ago

Data PPKM Mikro: Deliserdang Masuk Zona Kuning Covid-19

Berdasarkan data PPKM Mikro di Kabupaten Deliserdang periode 3 Mei s/d 9 Mei 2021, di…

1 hari ago

Warga Tembaan Temukan Mayat Pria Mengambang di Sungai Bah Boluk

Sesosok mayat pria yang belum diketahui identitasnya ditemukan mengambang di aliran sungai Bah Boluk, Nagori…

1 hari ago

Hendak Jual 1,1 Kg Sabu, 2 Pria Asal Aceh Utara Ini Diringkus Polisi di Depan Rumah

Satuan Reserse Narkoba Polres Aceh Utara, meringkus dua pria pengedar sabu-sabu, Minggu (09/05/2021) dinihari kemarin.…

3 hari ago

Lapas Siborong-borong Ikuti Apel Pagi Serentak Kemenkumham

Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas IIB Siborong borong, mengikuti apel pagi secara serentak di Kementrian Hukum…

3 hari ago