Rabu, 26 Februari 2020 | 12.45 WIB
Metro24Jam>News>Pangulu Dolok Malela Bangun Pagar Kantor, Ada Warganya Terpaksa Jual Ranting Kayu Buat Makan

Pangulu Dolok Malela Bangun Pagar Kantor, Ada Warganya Terpaksa Jual Ranting Kayu Buat Makan

Jumat, 14 Februari 2020 - 15:38 WIB

IMG-88734

Kantor Pangulu Dolok Malela, Kecamatan Gunung Malela. (Suhendra/metro24jam.com)

Loading...

SIMALUNGUN, metro24jam.com – Sejumlah warga Dolok Malela merasa keberatan dengan pembangunan tembok mewah kantor Pangulu Nagori Dolok Malela, Kecamatan Gunung Malela, Simalungun. Pasalnya, selain tidak tepat sasaran, pembangunan tembok pagar itu juga diduga merupakan penyimpangan penggunaan Alokasi Dana Desa (ADD) dan Dana Desa (DD).

Selain itu, pembangunan pagar tersebut dirasa sangat kontradiktif dengan kondisi beberapa warga yang saat ini masih sangat miskin dan harus bersusah payah mengais rezeki demi mendapatkan sesuap nasi.

Salah satu warga miskin tersebut adalah pasangan Saldi (70) dan Poniem (67). Warga Huta 2 itu terpaksa tinggal di gubuk reot yang hanya berjarak puluhan meter dari kantor Camat Gunung Malela dan Kantor Pangulu Dolok Malela.

Pasangan suami istri itu hanya tinggal di dalam rumah berlantai tanah serta berdindingkan tepas, tanpa penerangan PLN dan aliran air bersih. Keduanya sangat membutuhkan uluran pemerintah dan para dermawan.

Saldi tidak mempunyai pekerjaan tetap, sementara Poniem harus mengutip ranting-ranting kayu untuk dijual kembali agar bisa mendapatkan uang untuk membeli setumpuk beras.

Alhasil, kebijakan pangulu mereka membangun tembok pagar kantor dinilai sangat dari harapan untuk menyejahterakan warganya.

“Lebih baik membangun rumah Nek Poniem daripada pagar tembok kantor Pangulu Dolok Malela yang tidak efektif atau tidak tepat sasaran itu,” kata seorang warga kepada Metro24jam.com, Kamis (13/2/2020).

Menurutnya, untuk menyelesaikan kesenjangan sosial ada banyak cara. Salah satunya melalui program corporate social responsibility perusahaan BUMN PTPN 3, dan perusahaan pembibitan ikan nila yang ada di Kecamatan Gunung Malela.

“Ada dugaan penyelewengan (mark-up), pembangunan pagar tembok kantor Pangulu ini. Selain itu, terdapat unsur pelanggaran falsafah budaya Simalungun, sebab sampai saat pihak pemerintah desa tidak pernah terlihat memajang rincian/rencana anggaran belanja (RAB), di papan monografi balai desa,” bebernya.

Poniem seusai mencari ranting kayu bakar untuk dijual kembali. (Suhendra/metro24jam.com)

Pengadaan Papan Monografi Anggaran Dana Desa 2018 Nagori Dolok Malela itu juga dinilai terlalu mahal, bahkan terkesan dipaksakan oleh pangulu.

Dari informasi yang dihimpun, anggaran Rp17.000.000 untuk pengadaan Papan Monografi pada prinsipnya bukan bagian dari kegiatan yang dimusyawarahkan di Nagori Dolok Malela.

“Tiba-tiba saja anggaran itu sudah ada, masuk dalam APBDes Dolok Malela, sehingga saat ini jadi temuan Inspektorat dan tindak pidana korupsi (Tipikor) Polres Simalungun,” bebernya lagi.

“Seharusnya, sebagai pangulu (Kades), yang membangun desanya, maka dia wajib memajang RAB tersebut di balai desa agar semua masyarakat tahu apa saja yang dibangun dan apa saja yang akan dibelanjakan berikut harga satuannya,” lanjut warga tersebut.

“Semua warga desa berhak mendapatkan informasi tentang satuan RAB yang menggunakan Dana Desa, karena itu adalah hak masyarakat dan bukan hak pangulu,” lanjut pria itu.

Menurut dia, jika Pangulu atau perangkat nagori tidak melakukan tersebut, maka warga bisa menuntut mereka.

“Apalagi jika terbukti melakukan penyelewengan dana desa, bisa dijebloskan ke penjara. Sekarang tinggal bertanya, apakah pangulu dan perangkat nagori Dolok Malela ini benar-benar mampu memangku amanat dan tidak terjebak tindakan korupsi,” ketusnya.

Terpisah, Paiman, Gamot (Kadus) Huta 3, Nagori Dolok Malela, ketika ditemui di kediamannya mengaku tidak dapat memberikan keterangan terkait proyek dana desa dan ADD.

“Saya tidak tau pak, kan ada TPK, tanyakan TPK-nya saja pak atau langsung pangulu. Kami Gamot tidak ada dilibatkan dalam kebijakan dan pengelolahan anggaran, kami hanya sebatas usulan di dusun,” katanya, sembari pamit karena hendak menghadiri hajatan di dusunnya.

Papan Monografi disimpan di Kantor Pangulu Dolok Malela. (Suhendra/metro24jam.com)

Sementara itu, Asisten Pengamanan Kebun (PTPN) PTPN 3 Bangun, Donni ketika dikonfirmasi mengatakan, sampai saat ini pihaknya belum pernah menerima proposal warga tersebut.

“Semua itu terpulang kepada warga yang dibantu dan pihak desa pak, kita bersedia membantu melalui program corporate social responsibility (CSR), dengan catatan mengajukan proposal,” katanya saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp, Kamis (13/2/2020) siang.

Pangulu Nagori Dolok Malela Surya belum dapat dikonfirmasi. Saat akan ditemui di kantornya, perangkat desa yang belum lama dilantik Bupati Simalungun itu tidak berada di kantornya, meski masih pada jam kerja.

Camat Gunung Malela Andi S Pasaribu mengatakan, bahwa Saldi dan istrinya Poniem sebelumnya sudah pernah menerima bantuan tunai.

“Dua tahun lalu dapat bantuan tunai, sebelum saya di Gunung Malela dan itu rumah punya Pak Wahab. Mengenai papan monografi itu, beberapa lalu. Saya pun belum di Gunung Malela,” katanya. (age)

KOMENTAR ANDA
Loading...
Berita Lainnya
Belum Sempat Menjual, Wanita Asal Helvetia Ini Ketahuan Curi Perhiasan Majikan

Belum Sempat Menjual, Wanita Asal Helvetia Ini Ketahuan Curi Perhiasan Majikan

Pariani (46), warga Jalan Mesjid, Medan Helvetia, yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga ditangkap personel Unit Reskrim Polsek Medan Barat lantaran ...
Kecewa Ditinggal Putrinya, ‘Mandar Sabiji Pe Dang Adong Ditinggalhon’, Pria Asal Dairi Akhiri Hidup di Rumah Kontrakan

Kecewa Ditinggal Putrinya, ‘Mandar Sabiji Pe Dang Adong Ditinggalhon’, Pria Asal Dairi Akhiri Hidup di Rumah Kontrakan

Warga Jalan Bunga Rinte, Lingkungan VIII, Kelurahan Tanjung Selamat, Medan Tuntungan, mendadak gempar, Selasa (25/02/2020) pagi, sekira pukul 06.30 Wib.‬  Pasalnya, ...
Kedapatan Bawa Test Pack, Siswi SMP di Lae Parira Ketahuan Dicabuli Ayah Tiri

Kedapatan Bawa Test Pack, Siswi SMP di Lae Parira Ketahuan Dicabuli Ayah Tiri

Seorang pria di Desa Pandiangan, Kecamatan Lae Parira, Kabupaten Dairi diringkus personel Polsek Parongil setelah perbuatan bejar memperkosa anak tirinya ...
Heboh di Amplas! Jasad Bayi Dibungkus Kardus Mie dan Dibuang ke Tempat Sampah

Heboh di Amplas! Jasad Bayi Dibungkus Kardus Mie dan Dibuang ke Tempat Sampah

Suasana di Jalan Tuar, Kecamatan Medan Amplas seketika heboh menyusul temuan sesosok orok bayi yang dibungkus dalam kardus mie instan ...
Sat Pol-PP Siantar Diminta Tata Ulang Lapak Pedagang di Parluasan

Sat Pol-PP Siantar Diminta Tata Ulang Lapak Pedagang di Parluasan

Lapak jualan para pedagang di Pasar Parluasan dinilai semrawut dan perlu penataan untuk menjaga kenyamanan dan ketertiban di pasar tradisional ...
Modus Pacaran, Sering Beri Uang Jajan dan Diajak Jalan-jalan ke Siantar, Pria Ini Cabuli Gadis Putus Sekolah

Modus Pacaran, Sering Beri Uang Jajan dan Diajak Jalan-jalan ke Siantar, Pria Ini Cabuli Gadis Putus Sekolah

Tua-tua keladi, begitu pepatah menggambarkan pria satu ini. Meski usianya sudah melewati setengah abad, JFM masih saja suka 'daun muda' ...
Loading...