Sabtu, 21 April 2018 | 15.00 WIB
Metro24Jam>News>Metro 24 Jam>Dapat Vonis Mati, Andi Lala Kembali Nangis di Pengadilan

Dapat Vonis Mati, Andi Lala Kembali Nangis di Pengadilan

Sabtu, 13 Januari 2018 - 12:05 WIB

IMG-49769

Andi Lala cs. (Reza/metro24jam.com)

PN MEDAN, metro24jam.com – Andi Lala alias Andi Matalata dikenal sebagai pembunuh berdarah dingin. Gara-gara sabu, kesadisannya terbukti dengan membunuh Rianto serta keluarganya. Selain itu, tukang las dari Lubuk Pakam itu juga tanpa ampun membunuh Suherwan alias Iwan Kakek, selingkuhan istrinya, Reni Safitri.

Semua pembunuhan itu dipicu dendam. Namun, Andi Lala juga manusia biasa. Ia mempunyai kelemahan. Apa itu ? Kelemahan Andi Lala ada pada majelis hakim. Kenapa ? Karena di hadapan majelis hakim, Andi Lala yang dikenal tak takut itu menunjukan kepribadian beda. Belakangan ini dia acap menangis.

Mungkin saja sebabnya karena Andi Lala divonis mati oleh majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Medan. Entah takut dihukum mati atau tidak, yang jelas para wartawan jelas melihat Andi Lala menangis terisak. Hukuman pidana mati diberikan hakim setelah Andi Lala dinyatakan terbukti melakukan pembunuhan berencana dan sadis dalam dua kasus pembunuhan.

“Mengadili, menyatakan terdakwa Andi Lala alias Andi Matalata terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah telah melakukan atau turut serta melakukan pembunuhan dengan berencana yang menyebabkan hilangnya nyawa orang. Menjatuhkan hukuman dengan pidana mati,” tandas majelis hakim yang diketuai oleh Dominggus Silaban di Ruang Cakra IV PN Medan, Jumat (12/1) sore.

Dalam pertimbangan majelis hakim, Andi Lala selalu menggunakan alat saat melakukan penganiayaan terhadap Rianto beserta keluarga dan Suherwan hingga tewas. Hal itu, menurut hakim, untuk mempercepat kematian para korban.

“Menimbang, bahwa hakim tidak mendengar kata permintaan maaf di dalam persidangan, maka perbuatan para terdakwa harus dijatuhkan sebagaimana mestinya. Menimbang bahwa terdakwa Andi Lala setelah melakukan pembunuhan tidak ada perubahan maupun penyesalan hingga tindakannya berkelanjutan,” tandas hakim Dominggus.

Hakim berpendapat, hal memberatkan, perbuatan terdakwa Andi Lala bukan hanya membunuh orang dewasa saja, melainkan ada anak-anak yang menjadi korban. “Sehingga bisa membuat anak itu kehilangan keluarganya dan trauma sepanjang hidupnya. Hal meringankan nihil,” ujar Dominggus.

Andi Lala dinyatakan terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melanggar Pasal 340 jo Pasal 55 ayat (1) jo Pasal 65 ayat (1) KUHPidana. Usai mendengatkan vonis mati itu, Andi Lala mengeluarkan air matanya saat diboyong pengawal tahanan (waltah) ke sel tahanan sementara PN Medan. Ia yang terus mengeluarkan air matanya tak berkomentar sedikit pun saat diwawancarai wartawan.

Selain Andi Lala, majelis hakim juga menghukum terdakwa Andi Sahputra alias Andi Keleng dan Roni Anggara alias Roni. Keduanya dihukum masing-masing selama 20 tahun penjara karena ikut turut serta melakukan pembunuhan dengan berencana. Bedanya, kedua terdakwa ini tidak berkelanjutan.

Untuk terdakwa Andi Sahputra yang mencabut Berita Acara Pemeriksaan (BAP) karena merasa dianiaya dan diancam oleh oknum kepolisian, hakim beranggapan bahwa pencabutan BAP tidak bisa begitu saja tanpa adanya fakta dan saksi-saksi saksi.

“Menimbang bahwa Roni Anggara dan Andi Sahputra bukan lah eksekutor utama. Menimbang bahwa tindakan oknum polisi yang menembak kaki Andi Sahputa tidak semata-mata menghilangkan dakwaan,” pungkas hakim Dominggus.

Putusan untuk terdakwa Andi Lala dan Andi Sahputra sama dengan tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU). Sedangkan terdakwa Roni dituntut selama seumur hidup penjara.

Usai sidang, penasehat hukum ketiga terdakwa, Torang Manurung menjelaskan untuk vonis terhadap terdakwa Roni dan Andi Sahputra, pihaknya mengajukan banding. Menurutnya, banyak pertimbangan majelis hakim yang tidak sesuai dengan fakta persidangan.

“Ketiga terdakwa ini semuanya ditembak. Bahkan Roni sempat lumpuh karena peluru yang bersarang di kakinya. Persoalannya sekarang Roni dalam penekanan dan dipaksa oleh polisi untuk mengakui perbuatan itu. Kita banding untuk kedua terdakwa ini,” jelasnya.

Dalam dakwaan JPU, pada Maret 2017, Andi Lala menyerahkan uang sebanyak Rp 5 juta kepada korban untuk membeli sabu karena Rianto pernah menjanjikan akan membantu membelikan kepada temannya. Beberapa hari kemudian, Rianto tidak menyerahkan sabunya ketika Andi Lala menagih dan korban selalu memberikan alasan. “Alasan Rianto tersebut membuat Andi Lala merasa sakit hati dan dendam sehingga timbul niat untuk membunuh korban,” kata Kadlan.

Untuk mempersiapkan pembunuhan terhadap Rianto, Andi Lala terlebih dahulu membeli sepotong besi sepanjang 60 cm di tempat jual beli besi bekas Jalan Gudang Merah Desa Sekip Kecamatan Lubuk Pakam. Ia juga membeli sabu dari temannya bernama Andre sebanyak 1 bungkus dengan harga Rp 300 ribu. Nantinya, sabu tersebut akan digunakan Andi Lala bersama dengan Rianto.

Ketika sampai di rumahnya, Andi Lala menggunakan sabu tersebut terlebih dahulu dan kemudian menyewa mobil Daihatsu Xenia yang akan digunakan untuk pergi ke rumah Rianto. “Andi Lala juga mengambil sepotong besi dari kamar rumahnya dan diletakkan di bawah samping bangku supir dekat pintu masuk,” lanjut Kadlan. Andi Lala menuju warung bakso di Jalan Pembangunan 21 Desa Sekip Deli Serdang dan menelepon Rianto untuk memberitahukan bahwa dia akan bertamu ke rumah Rianto di Mabar untuk menghisap sabu.

Setelah itu, Andi Lala menelepon Roni Anggara tanpa memberitahukan maksudnya menemui Rianto. Setengah jam kemudian, Andi Sahputra dan Roni Anggara tiba di warung bakso Buk Sarni dengan mengendarai kereta Yamaha Vixon. Selanjutnya Roni Anggara pergi ke rumah Andi Sahputra untuk menitipkan keretanya. Tak berapa lama, Andi Lala menyusul Andi Sahputra dan Roni Anggara serta membawa mereka di dalam mobil. Andi Lala mengatakan kepadanya bahwa mereka mau ke rumah Rianto untuk mengambil sabu.

Kemudian, ketiganya sampai di gang rumah Rianto. Andi Lala keluar melalui pintu kanan supir sambil membawa sabu dan alat hisap sedangkan sebatang besi bulat tersimpan di samping kursi supir.

“Sesampainya di tempat tujuan, mereka disambut korban Rianto yang sudah menunggu di teras rumahnya. Andi Lala memperkenalkan Andi Sahputra dan Roni Anggara sebagai keponakannya,” ucap Kadlan. Setelah ngobrol dan minum sebentar, Andi Lala meminta botol bekas minuman Sprite atau Coca Cola kepada Rianto untuk digunakan sebagai bahan dalam menghisap sabu.

Andi Lala menyuruh Rianto untuk membuat alat hisapnya sedangkan Andi Lala dengan alasan mau ke mobil untuk mengambil sabu. Padahal, sabu tersebut sudah berada di kantong celana Andi Lala.

“Hal tersebut merupakan alasan Andi Lala saja karena dia hendak mengambil sebatang besi yang disimpan dalam mobil. Batangan besi tersebut diselipkan di paha depan kaki kiri ditutupi pakaian Andi Lala. Andi Lala kemudian kembali dan menemui korban Rianto,” pungkas JPU dari Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara (Kejatisu) tersebut.

Disitu, Andi Lala melihat Rianto duduk di dapur dekat kamar sedang merakit alat hisap sabu karena posisi Rianto terlihat jelas diterangi lampu lalu. Andi Lala mengajak Rianto agar berpindah ke ruangan tengah dekat pintu samping rumah. Rianto lalu menyerahkan alat hisap sabu kepada Andi Lala karena Rianto akan membuang bangkai tikus.

Saat Rianto membuang bangkai tikus, Andi Lala dengan cepat memindahkan posisi sebatang besi yang diselipkan di pahanya ke belakang punggung Andi Lala.

Andi Lala menghisap sabu sebanyak tiga kali, Rianto datang dan duduk dihadapan Andi Lala. Andi Lala lalu menyerahkan alat penghisap sabu kepada Rianto untuk digunakan.

“Pada saat Rianto sedang menikmati sabu, Andi Lala secara diam-diam berdiri dan mengambil sebatang besi yang diselipkan dipunggungnya. Dengan menggunakan kedua tangannya, Andi Lala mengayunkan besi dan memukulkannya ke arah kepala Rianto sebanyak satu kali sehingga terjatuh menyamping,” tandas Kadlan. Suara ribut-ribut terdengar oleh Andi Sahputra dan Roni Anggara dan mereka masuk ke dalam rumah Rianto.

Ketika berada di dalam rumah, Roni Anggara melihat Andi Lala dan Rianto sedang berkelahi. Roni Anggara membantu Andi Lala. Setelah melihat Rianto tergeletak, Andi Lala dan Roni Anggara menuju sebuah kamar.

“Di dalam kamar tersebut, Andi Lala bersama Roni Anggara kembali memukul kepala istri Rianto bernama Riyani di tempat tidur serta mertua Rianto bernama Sumarni yang hendak menuju ke dapur. Selanjutnya, Roni Anggara membacok anak laki-laki Rianto bernama Gilang,” jelas Kadlan.

Selanjutnya, Andi Lala memukul kepala dan perut Kinara selaku anak perempuan Rianto berumur 4 tahun beberapa kali. Bahkan, Andi Lala memukul bagian belakang kepala Kinara beberapa kali. Karena sudah menganggap Kinara meninggal, Andi Lala meletakkan Kinara di lantai lalu dengan menggunakan kakinya mendorong tubuh Kinara ke bawah kolong tempat tidur.

“Roni Anggara juga membacok kepala Sifa Fadilla Hinaya alias Naya beberapa kali sehingga kepalanya mengeluarkan darah,” cetus Kadlan.

Setelah membunuh korbannya, Andi Lala dan Roni Anggara dengan leluasa mengambil barang berharga milik Rianto dan Riyani diantaranya sebuah Ipad, uang, laptop, kereta Honda Vario warna putih dan dompet.

Pada Senin tanggal 10 April 2017, Andi Lala menelepon Roni Anggara untuk bertemu di Beteng Pagar Jati dan menyuruh agar Roni Anggara membawa kereta milik Rianto. Andi Sahputra dan Roni Anggara dengan mengendarai kereta curian milik Rianto menemui Andi Lala.

Setelah bertemu, Andi Sahputra dan Roni Anggara menyerahkan kereta milik Rianto kepada Andi Lala. “Andi Lala pergi ke Perbaungan ketempat Rikki Prima Kesuma untuk menggadaikan kereta Honda Vario tersebut sebesar Rp 1,8 juta. Ketika Roni Anggara bertemu dengan Andi Lala di Kampung Tempel untuk mengantarkan cincin Andi Lala, Andi Lala menyerahkan uang sebesar Rp 500 ribu,” ujar Kadlan. (rez)


Loading...
KOMENTAR ANDA
Berita Terkini Lainnya
Hadiah Akhir Pekan Bertemu Sihar
Metro 24 Jam - Sabtu, 21 April 2018 - 05:05 WIB

Hadiah Akhir Pekan Bertemu Sihar

Waktu makan siang yang dimanfaatkan Sihar Sitorus untuk mengunjungi pusat perbelanjaan di Medan ternyata mengundang perhatian sejumlah pengunjung. Kedatangan Calon ...
Hukuman Mantan Bendahara Pemenangan Ramadhan Pohan Diperberat
Metro 24 Jam - Sabtu, 21 April 2018 - 04:59 WIB

Hukuman Mantan Bendahara Pemenangan Ramadhan Pohan Diperberat

Hukuman Savita Linda Hora Panjaitan selaku mantan bendahara pemenangan pasangan calon Walikota/Wakil Walikota Medan Periode 2015-2020 yakni Ramadhan Pohan-Eddie Kusuma, ...
Kreta Tak Kunjung Ditemukan, Aktivis Pemulung Lapor Kapolda Sumut
Metro 24 Jam - Sabtu, 21 April 2018 - 02:35 WIB

Kreta Tak Kunjung Ditemukan, Aktivis Pemulung Lapor Kapolda Sumut

Sudah lebih seminggu kreta milik Uba Pasaribu hilang digasak maling. Hingga kini, Polsek Medan Sunggal tak kunjung berhasil menemukan pelaku ...
Jaksa dan Hakim Kompak, Tompel Dipenjara 6 Tahun
Siantar 24 Jam - Sabtu, 21 April 2018 - 02:27 WIB

Jaksa dan Hakim Kompak, Tompel Dipenjara 6 Tahun

Wira Pranata alias Tompel, terdakwa pemilik 8 paket sabu, divonis selama 6 tahun penjara oleh majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) ...
Walikota Abaikan Rekomendasi KASN dan DPRD, Pelantikan Pejabat Pemko Siantar Diprotes
Siantar 24 Jam - Sabtu, 21 April 2018 - 02:18 WIB

Walikota Abaikan Rekomendasi KASN dan DPRD, Pelantikan Pejabat Pemko Siantar Diprotes

Pemerintahan Kota (Pemko) Siantar melantik pejabat Eselon III dan IV di ruang data Balai Kota, Jalan Merdeka. Komite Pemerhati Aparatur ...
Bahas Revitalisasi Pasar Horas ‘Panas’, Pedagang Menolak, PD PHJ Tetap Lanjut
Siantar 24 Jam - Sabtu, 21 April 2018 - 02:05 WIB

Bahas Revitalisasi Pasar Horas ‘Panas’, Pedagang Menolak, PD PHJ Tetap Lanjut

Pertemuan pembahasan rencana revitalisasi Pasar Horas antara Aliansi Pedagang Balerong, Kaki Lima dan Kios Tempel (Balimbel) dengan Perusahaan Daerah Pasar ...