Rabu, 18 Juli 2018 | 02.14 WIB
Metro24Jam>News>Metro 24 Jam>Dapat Vonis Mati, Andi Lala Kembali Nangis di Pengadilan

Dapat Vonis Mati, Andi Lala Kembali Nangis di Pengadilan

Sabtu, 13 Januari 2018 - 12:05 WIB

IMG-49769

Andi Lala cs. (Reza/metro24jam.com)

PN MEDAN, metro24jam.com – Andi Lala alias Andi Matalata dikenal sebagai pembunuh berdarah dingin. Gara-gara sabu, kesadisannya terbukti dengan membunuh Rianto serta keluarganya. Selain itu, tukang las dari Lubuk Pakam itu juga tanpa ampun membunuh Suherwan alias Iwan Kakek, selingkuhan istrinya, Reni Safitri.

Semua pembunuhan itu dipicu dendam. Namun, Andi Lala juga manusia biasa. Ia mempunyai kelemahan. Apa itu ? Kelemahan Andi Lala ada pada majelis hakim. Kenapa ? Karena di hadapan majelis hakim, Andi Lala yang dikenal tak takut itu menunjukan kepribadian beda. Belakangan ini dia acap menangis.

Mungkin saja sebabnya karena Andi Lala divonis mati oleh majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Medan. Entah takut dihukum mati atau tidak, yang jelas para wartawan jelas melihat Andi Lala menangis terisak. Hukuman pidana mati diberikan hakim setelah Andi Lala dinyatakan terbukti melakukan pembunuhan berencana dan sadis dalam dua kasus pembunuhan.

“Mengadili, menyatakan terdakwa Andi Lala alias Andi Matalata terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah telah melakukan atau turut serta melakukan pembunuhan dengan berencana yang menyebabkan hilangnya nyawa orang. Menjatuhkan hukuman dengan pidana mati,” tandas majelis hakim yang diketuai oleh Dominggus Silaban di Ruang Cakra IV PN Medan, Jumat (12/1) sore.

Dalam pertimbangan majelis hakim, Andi Lala selalu menggunakan alat saat melakukan penganiayaan terhadap Rianto beserta keluarga dan Suherwan hingga tewas. Hal itu, menurut hakim, untuk mempercepat kematian para korban.

“Menimbang, bahwa hakim tidak mendengar kata permintaan maaf di dalam persidangan, maka perbuatan para terdakwa harus dijatuhkan sebagaimana mestinya. Menimbang bahwa terdakwa Andi Lala setelah melakukan pembunuhan tidak ada perubahan maupun penyesalan hingga tindakannya berkelanjutan,” tandas hakim Dominggus.

Hakim berpendapat, hal memberatkan, perbuatan terdakwa Andi Lala bukan hanya membunuh orang dewasa saja, melainkan ada anak-anak yang menjadi korban. “Sehingga bisa membuat anak itu kehilangan keluarganya dan trauma sepanjang hidupnya. Hal meringankan nihil,” ujar Dominggus.

Andi Lala dinyatakan terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melanggar Pasal 340 jo Pasal 55 ayat (1) jo Pasal 65 ayat (1) KUHPidana. Usai mendengatkan vonis mati itu, Andi Lala mengeluarkan air matanya saat diboyong pengawal tahanan (waltah) ke sel tahanan sementara PN Medan. Ia yang terus mengeluarkan air matanya tak berkomentar sedikit pun saat diwawancarai wartawan.

Selain Andi Lala, majelis hakim juga menghukum terdakwa Andi Sahputra alias Andi Keleng dan Roni Anggara alias Roni. Keduanya dihukum masing-masing selama 20 tahun penjara karena ikut turut serta melakukan pembunuhan dengan berencana. Bedanya, kedua terdakwa ini tidak berkelanjutan.

Untuk terdakwa Andi Sahputra yang mencabut Berita Acara Pemeriksaan (BAP) karena merasa dianiaya dan diancam oleh oknum kepolisian, hakim beranggapan bahwa pencabutan BAP tidak bisa begitu saja tanpa adanya fakta dan saksi-saksi saksi.

“Menimbang bahwa Roni Anggara dan Andi Sahputra bukan lah eksekutor utama. Menimbang bahwa tindakan oknum polisi yang menembak kaki Andi Sahputa tidak semata-mata menghilangkan dakwaan,” pungkas hakim Dominggus.

Putusan untuk terdakwa Andi Lala dan Andi Sahputra sama dengan tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU). Sedangkan terdakwa Roni dituntut selama seumur hidup penjara.

Usai sidang, penasehat hukum ketiga terdakwa, Torang Manurung menjelaskan untuk vonis terhadap terdakwa Roni dan Andi Sahputra, pihaknya mengajukan banding. Menurutnya, banyak pertimbangan majelis hakim yang tidak sesuai dengan fakta persidangan.

“Ketiga terdakwa ini semuanya ditembak. Bahkan Roni sempat lumpuh karena peluru yang bersarang di kakinya. Persoalannya sekarang Roni dalam penekanan dan dipaksa oleh polisi untuk mengakui perbuatan itu. Kita banding untuk kedua terdakwa ini,” jelasnya.

Dalam dakwaan JPU, pada Maret 2017, Andi Lala menyerahkan uang sebanyak Rp 5 juta kepada korban untuk membeli sabu karena Rianto pernah menjanjikan akan membantu membelikan kepada temannya. Beberapa hari kemudian, Rianto tidak menyerahkan sabunya ketika Andi Lala menagih dan korban selalu memberikan alasan. “Alasan Rianto tersebut membuat Andi Lala merasa sakit hati dan dendam sehingga timbul niat untuk membunuh korban,” kata Kadlan.

Untuk mempersiapkan pembunuhan terhadap Rianto, Andi Lala terlebih dahulu membeli sepotong besi sepanjang 60 cm di tempat jual beli besi bekas Jalan Gudang Merah Desa Sekip Kecamatan Lubuk Pakam. Ia juga membeli sabu dari temannya bernama Andre sebanyak 1 bungkus dengan harga Rp 300 ribu. Nantinya, sabu tersebut akan digunakan Andi Lala bersama dengan Rianto.

Ketika sampai di rumahnya, Andi Lala menggunakan sabu tersebut terlebih dahulu dan kemudian menyewa mobil Daihatsu Xenia yang akan digunakan untuk pergi ke rumah Rianto. “Andi Lala juga mengambil sepotong besi dari kamar rumahnya dan diletakkan di bawah samping bangku supir dekat pintu masuk,” lanjut Kadlan. Andi Lala menuju warung bakso di Jalan Pembangunan 21 Desa Sekip Deli Serdang dan menelepon Rianto untuk memberitahukan bahwa dia akan bertamu ke rumah Rianto di Mabar untuk menghisap sabu.

Setelah itu, Andi Lala menelepon Roni Anggara tanpa memberitahukan maksudnya menemui Rianto. Setengah jam kemudian, Andi Sahputra dan Roni Anggara tiba di warung bakso Buk Sarni dengan mengendarai kereta Yamaha Vixon. Selanjutnya Roni Anggara pergi ke rumah Andi Sahputra untuk menitipkan keretanya. Tak berapa lama, Andi Lala menyusul Andi Sahputra dan Roni Anggara serta membawa mereka di dalam mobil. Andi Lala mengatakan kepadanya bahwa mereka mau ke rumah Rianto untuk mengambil sabu.

Kemudian, ketiganya sampai di gang rumah Rianto. Andi Lala keluar melalui pintu kanan supir sambil membawa sabu dan alat hisap sedangkan sebatang besi bulat tersimpan di samping kursi supir.

“Sesampainya di tempat tujuan, mereka disambut korban Rianto yang sudah menunggu di teras rumahnya. Andi Lala memperkenalkan Andi Sahputra dan Roni Anggara sebagai keponakannya,” ucap Kadlan. Setelah ngobrol dan minum sebentar, Andi Lala meminta botol bekas minuman Sprite atau Coca Cola kepada Rianto untuk digunakan sebagai bahan dalam menghisap sabu.

Andi Lala menyuruh Rianto untuk membuat alat hisapnya sedangkan Andi Lala dengan alasan mau ke mobil untuk mengambil sabu. Padahal, sabu tersebut sudah berada di kantong celana Andi Lala.

“Hal tersebut merupakan alasan Andi Lala saja karena dia hendak mengambil sebatang besi yang disimpan dalam mobil. Batangan besi tersebut diselipkan di paha depan kaki kiri ditutupi pakaian Andi Lala. Andi Lala kemudian kembali dan menemui korban Rianto,” pungkas JPU dari Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara (Kejatisu) tersebut.

Disitu, Andi Lala melihat Rianto duduk di dapur dekat kamar sedang merakit alat hisap sabu karena posisi Rianto terlihat jelas diterangi lampu lalu. Andi Lala mengajak Rianto agar berpindah ke ruangan tengah dekat pintu samping rumah. Rianto lalu menyerahkan alat hisap sabu kepada Andi Lala karena Rianto akan membuang bangkai tikus.

Saat Rianto membuang bangkai tikus, Andi Lala dengan cepat memindahkan posisi sebatang besi yang diselipkan di pahanya ke belakang punggung Andi Lala.

Andi Lala menghisap sabu sebanyak tiga kali, Rianto datang dan duduk dihadapan Andi Lala. Andi Lala lalu menyerahkan alat penghisap sabu kepada Rianto untuk digunakan.

“Pada saat Rianto sedang menikmati sabu, Andi Lala secara diam-diam berdiri dan mengambil sebatang besi yang diselipkan dipunggungnya. Dengan menggunakan kedua tangannya, Andi Lala mengayunkan besi dan memukulkannya ke arah kepala Rianto sebanyak satu kali sehingga terjatuh menyamping,” tandas Kadlan. Suara ribut-ribut terdengar oleh Andi Sahputra dan Roni Anggara dan mereka masuk ke dalam rumah Rianto.

Ketika berada di dalam rumah, Roni Anggara melihat Andi Lala dan Rianto sedang berkelahi. Roni Anggara membantu Andi Lala. Setelah melihat Rianto tergeletak, Andi Lala dan Roni Anggara menuju sebuah kamar.

“Di dalam kamar tersebut, Andi Lala bersama Roni Anggara kembali memukul kepala istri Rianto bernama Riyani di tempat tidur serta mertua Rianto bernama Sumarni yang hendak menuju ke dapur. Selanjutnya, Roni Anggara membacok anak laki-laki Rianto bernama Gilang,” jelas Kadlan.

Selanjutnya, Andi Lala memukul kepala dan perut Kinara selaku anak perempuan Rianto berumur 4 tahun beberapa kali. Bahkan, Andi Lala memukul bagian belakang kepala Kinara beberapa kali. Karena sudah menganggap Kinara meninggal, Andi Lala meletakkan Kinara di lantai lalu dengan menggunakan kakinya mendorong tubuh Kinara ke bawah kolong tempat tidur.

“Roni Anggara juga membacok kepala Sifa Fadilla Hinaya alias Naya beberapa kali sehingga kepalanya mengeluarkan darah,” cetus Kadlan.

Setelah membunuh korbannya, Andi Lala dan Roni Anggara dengan leluasa mengambil barang berharga milik Rianto dan Riyani diantaranya sebuah Ipad, uang, laptop, kereta Honda Vario warna putih dan dompet.

Pada Senin tanggal 10 April 2017, Andi Lala menelepon Roni Anggara untuk bertemu di Beteng Pagar Jati dan menyuruh agar Roni Anggara membawa kereta milik Rianto. Andi Sahputra dan Roni Anggara dengan mengendarai kereta curian milik Rianto menemui Andi Lala.

Setelah bertemu, Andi Sahputra dan Roni Anggara menyerahkan kereta milik Rianto kepada Andi Lala. “Andi Lala pergi ke Perbaungan ketempat Rikki Prima Kesuma untuk menggadaikan kereta Honda Vario tersebut sebesar Rp 1,8 juta. Ketika Roni Anggara bertemu dengan Andi Lala di Kampung Tempel untuk mengantarkan cincin Andi Lala, Andi Lala menyerahkan uang sebesar Rp 500 ribu,” ujar Kadlan. (rez)


Loading...
KOMENTAR ANDA
Berita Terkini Lainnya
Relokasi Mandiri Jalan Veteran Terbengkalai, Isu ‘Suap’ Mencuat
Metro 24 Jam - Rabu, 18 Juli 2018 - 02:11 WIB

Relokasi Mandiri Jalan Veteran Terbengkalai, Isu ‘Suap’ Mencuat

Relokasi Mandiri tahap II pembangunan 2016, di Jalan Veteran, Gang Garuda, Kabupaten Karo masih meninggalkan berbagai persoalan, termasuk isu dugaan ...
Upacara Kesadaran Nasional di Deliserdang, Bupati Ingatkan Hari Aksara Internasional
Metro 24 Jam - Rabu, 18 Juli 2018 - 02:01 WIB

Upacara Kesadaran Nasional di Deliserdang, Bupati Ingatkan Hari Aksara Internasional

Bupati Deliserdang H Ashari Tambunan pimpin upacara Hari Kesadaran Nasional Pemerintah Kabupaten Deliserdang, Selasa (17/7), di Lapangan Kantor Bupati, bersamaan ...
DPC Partai Garuda Serahkan Berkas Bacaleg ke KPUD Siantar
Metro 24 Jam - Rabu, 18 Juli 2018 - 01:45 WIB

DPC Partai Garuda Serahkan Berkas Bacaleg ke KPUD Siantar

Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Garuda Pematangsiantar hadir di Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Kota Pematangsiantar, untuk menyerahkan berkas pengajuan ...
Sambut HBA-58 dan HUT IAD-18, Kejari Deliserdang Bagikan 1.000 Nasi Bungkus
Metro 24 Jam - Rabu, 18 Juli 2018 - 01:36 WIB

Sambut HBA-58 dan HUT IAD-18, Kejari Deliserdang Bagikan 1.000 Nasi Bungkus

Banyak cara yang dapat dilakukan untuk mencari simpatik masyarakat dalam menyambut Hari Bakti Adhyaksa (HBA) ke-58 tahun dan HUT Ikatan ...
Pengedar Sabu Ditembak Mati: Jaringan Rizal Cs dan Kasus 14 Kg Sabu di Namorambe
Metro 24 Jam - Rabu, 18 Juli 2018 - 01:23 WIB

Pengedar Sabu Ditembak Mati: Jaringan Rizal Cs dan Kasus 14 Kg Sabu di Namorambe

Salah satu terduga jaringan pengedari sabu yang ditembak mati oleh polisi, Selasa (17/7/2018), merupakan bagian dari jaringan Rizal, yang sebelumnya ...
Maling Kreta Kualat! Sering Beraksi di Masjid, Ditembak Polisi
Metro 24 Jam - Rabu, 18 Juli 2018 - 00:57 WIB

Maling Kreta Kualat! Sering Beraksi di Masjid, Ditembak Polisi

Sekali maen berhasil, duo kawanan maling kreta jadi ketagihan. Kemarin, aksi keduanya berakhir setelah ditembak tim anti bandit Polres Binjai ...