Sabtu, 24 Februari 2018 | 21.29 WIB
Metro24Jam>News>Siantar 24 Jam>Masuk Zona Biru, PT STTC Tetap Tak Layak di Tengah Pemukiman

Masuk Zona Biru, PT STTC Tetap Tak Layak di Tengah Pemukiman

Sabtu, 17 Juni 2017 - 10:10 WIB

IMG-34415

PT STTC Jalan Pattimura Siantar Timur. (Elisbet/metro24jam.com)

SIANTAR, metro24jam.com – Suka atau tidak suka, industri rokok PT STTC sudah tidak layak berada di sekitar areal pemukiman, meski dalam Alokasi Ruang untuk Kawasan Industri, yang akan diakomodir dalam Revisi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal), kawasan itu masih dimasukkan dalam zona biru atau aman.

Pernyataan itu disampaikan Dr Robert Siregar selaku Pengamat Tata Ruang Kota yang dikonfirmasi Siantar24Jam, Jumat (16/6), sekira jam 10.00 Wib.

Secara hirarki, perencanaan dan harmonisasi ruang yang digabung dalam satu zona, harus dihindarkan.

“Jadi saat ini dalam revisi RTRW yang akan mengakomodir spasialnya harus dibuat alokasinya sehingga ke depan semua pihak tidak terjadi saling tuding menuding,” ucapnya.

Lebih lanjut dipaparkan bahwa alokasi ruang tersebut bukan hanya untuk industri rokok PT STTC, sehingga semua kegiatan pengolahan atau industri harus direlokasi pada ruang yang tepat agar tidak menimbulkan friksi.

“Mengenai waktu kapan implementasi relokasinya itu akan diatur dalam regulasinya. Jadi kita mendorong alokasi ruang agar diakomodir dalam revisi RTRW. Hal ini bukan ada kepentingan dan ini bukan hanya untuk STTC. Tetapi semua pelaku industri yang ada dalam zona pemukiman harus memang sudah ditata akan terjadi sustainable development yang kita harap kan,” ujarnya.

Dijelaskan, ke depan tidak ada lagi stakeholder berinterpretasi secara parsial dalam penataan ruang sehingga ada yang pro kontra dalam STTC. Hal ini berlaku untuk semua pelaku industri di Kota Siantar agar taat dalam penataan ruang yang nantinya tercover dalam RTRW.

“Kalau kita melihat secara parsial. ini tidak menyalahi, itu salah, dari sisi ini tidak salah, itu namanya perencanaan yang tidak holistic atau perencanaan sepihak. Penataan RTRW adalah panduan kita menata kota ini secara fisik dan non fisik yg menjadi acuan RPJP, RPJMD, Renstra,” jelasnya.

Kemudian, meski saat ini PT STTC masih dalam zona biru, dinas terkait diharapkan tetap berpacu karena bagaimana nanti jika ke depannya pabrik rokok tersebut menjadi merah atau berbahaya.

“Apakah instansi terkait mau bertanggungjawab, kita harus melihat ini secara holistic dan jangan melihat secara parsial,” ungkapnya.

Dalam hal ini, Direktur Pasca Sarjana Universitas Simalungun itu juga mengatakan, pihaknya tidak ada niat mendorong investasi hengkang dari Kota Siantar. Hanya saja harus ada penataan ruang agar ke depan tidak menjadi masalah.

“Ini pastinya akan tetap jadi polemik jika dibiarkan, sehingga alokasi ruang untuk kegiatan pengolahan industri tidak lagi pada zona pemukiman, suka atau tidak suka harus dialokasikan dalam RTRW dan implementasinya akan diatur nantinya dalam regulasi. Dan bukan hanya PT STTC tapi semua industri yang ada” jelasnya lagi.

Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan, Ronald Saragih, saat dikonfirmasi mengenai kelayakan sebuah industri di daerah pemukiman, enggan member komentar.

“Itu bukan saya yang menentukan, itu tidak kompetensi saya menjawab itu,” elaknya.

Disinggung, mengenai analisis kesehatannya. Ronald menyampaikan harus ada dulu analisis ilmiah mengenai polutannya, limbah, dan bagaimana efek kepada kesehatan. Setelah itu Ronald mengaku baru berani berbicara.

“Nanti saya salah ngomong pula. Bukan takut saya sama orang itu, tapi saya mencoba menyarankan agar ada penelitian secara ilmiah dulu,” sebutnya berargumen.

Disinggung, bahwa asumsi di masyarakat ada kesan dinas yang dipimpinnya berusaha membela PT STTC ‘mati-matian’ karena ada ‘sesuatu’, Ronald membantah.

“Aku bukan membela, bukan hanya di Dinas kesehatan yang dapat DHCT. Sehingga bukan karena itu,” kilahnya.

Terkait pernyataan dr Djuni saat diwawancarai beberapa hari lalu, soal pasien Ispa yang bisa saja disebabkan oleh polusi pabrik, Ronal tidak membantahnya. “Benar karena polusi pabrik, tapikan harus jelas polusi bagaimana,” ucapnya.

Sementara, masalah limbah atau perubahan udara yang dihirup, sebenarnya bukan hanya dirasakan masyarakat sekitar Jalan Pdt Justin Sihombing sekitarnya, tetapi juga sampai ke warga yang berada di seputaran Jalan Pattimura. Terutama di sekitar Kelurahan Tomuan, Kecamatan Siantar Timur, hal itu juga terjadi. Ironisnya, pihak PT STTC tidak mau tau tentang apa yang dialami masyarakat.

“Setiap hari kami mencium bau tembakau karena rumah kami sangat berdekatan dengan STTC. Tapi, waktu ada bagi-bagi sembako, yang menerima justru yang berada jauh dari STTC,” kata salah seorang ibu rumah tangga sembari mengatakan mulai sering sesak nafas dan berencana akan memeriksa kesehatannya di Puskesmas terdekat. (Els)


Loading...
KOMENTAR ANDA
Berita Terkini Lainnya
Targe Tembus Pasar Internasional, Beras Organik Sergai Butuh Sertifikat LSO
BISNIS - Sabtu, 24 Februari 2018 - 21:25 WIB

Targe Tembus Pasar Internasional, Beras Organik Sergai Butuh Sertifikat LSO

Beras organik merk Sri Wangi produk Kelompok Tani Fajar di Desa Pematang Setrak, Kecamatan Teluk Mengkudu, Sergai yang berhasil menembus ...
Gelar Silahturahmi Alumni Al Azhar, GNPF MUI Sumut Deklarasi Dukung Eramas
Metro 24 Jam - Sabtu, 24 Februari 2018 - 20:35 WIB

Gelar Silahturahmi Alumni Al Azhar, GNPF MUI Sumut Deklarasi Dukung Eramas

Tokoh dan alumni Al Azhar Mesir menggelar silaturahmi di Medan, Jumat (23/2/2018). Silaturahmi bertema Menatap Indonesia Baru Bersama Tuan Guru ...
Pagar Merbau II Geger, Cewek ABG Ditikami 7 Liang
Metro 24 Jam - Sabtu, 24 Februari 2018 - 20:26 WIB

Pagar Merbau II Geger, Cewek ABG Ditikami 7 Liang

Warga Desa Pagar Merbau II, Kecamatan Pagar Merbau, digegerkan dengan temuan seorang gadis berusia sekira 16 tahun yang berlumuran darah ...
Sejak Dicabuli Gurunya, Bocah Ini Tak Sekolah dan Jadi Pemurung
Siantar 24 Jam - Sabtu, 24 Februari 2018 - 20:08 WIB

Sejak Dicabuli Gurunya, Bocah Ini Tak Sekolah dan Jadi Pemurung

Pasca mengalami pelecehan seksual secara berulang dari terduga pelaku, HP (50), oknum wali kelasnya, bocah perempuan, NS, (10) yang masih ...
Sihar Sitorus: Budayakan Literasi untuk Mendapatkan Kebenaraan Informasi
Metro 24 Jam - Sabtu, 24 Februari 2018 - 20:03 WIB

Sihar Sitorus: Budayakan Literasi untuk Mendapatkan Kebenaraan Informasi

Penyebaran informasi yang semakin masif dan canggih, membuat masyarakat dengan mudah mengaksesnya. Hal ini juga menjadi peluang bagi penyebar berita ...
Perumahan Alam Asri, Dibangun di Kawasan Hunian Sejuk
BISNIS - Sabtu, 24 Februari 2018 - 19:59 WIB

Perumahan Alam Asri, Dibangun di Kawasan Hunian Sejuk

Hunian satu ini sangat pas untuk keluarga yang ingin memiliki tempat tinggal alami dan sejuk dengan udara segar pedesaan yang ...